A. Teknis
Di setiap pelaksanaan PA (Penelaahan Alkitab) didahului dengan doa. Jika peserta penelaahan Alkitab yang hadir kurang dari 5 orang, tidak perlu
dibagi kelompok. Sebaliknya, jika peserta antara 5-10 orang, perlu
pembagian kelompok. Jumlah anggota dalam kelompok berkisar antara 3-4
orang. Untuk kehadiran antara 10 sampai 30 orang dibagi antara 5 -7 orang per kelompok. Untuk kehadiran antara 31 sampai 50 orang, peserta PA untuk satu kelompok berkisar antara 7 sampai 10 orang. Untuk peserta lebih dari 50 orang, peserta diskusi dapat dibagi untuk 3-5 orang yang duduk berdekatan, atau dapat disesuaikan dengan fasilitas pendukung yang ada.
B. Tata Penelaahan:
➔ Pembukaan (5–10 menit): Sapa peserta, doa pembukaan.
➔ Pembacaan Teks (5 menit): Baca Matius 16:21-28 bersama-sama atau satu orang membacakan.
➔ Pemahaman Teks (10–15 menit).
➔ Diskusi Kelompok (20–30 menit): Fasilitator bisa mendorong diskusi lebih dalam dengan pertanyaan teks (a), refleksi pribadi (b),
dan tindakan iman (c).
➔ Aplikasi dan Doa (10 menit): Ajak peserta menuliskan satu komitmen praktis. Doakan komitmen itu secara pribadi atau bersama-sama.
C. Materi Penelaahan: Perikop : Matius 16:21-28
1. Latar Belakang
a. Konteks Pasal
Teks ini terletak tepat setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup" (ay. 16). Namun, segera setelah pengakuan itu, Yesus harus meluruskan konsep Mesias yang ada di pikiran para murid. Mereka mengharapkan kehadiran seorang raja secara politis seperti para raja pada umumnya yang jaya. Tetapi ternyata Yesus memperkenalkan diri sebagai Mesias yang menderita.
b. Konteks Historis Matius
Injil Matius ditulis utamanya untuk komunitas Yahudi-Kristen yang sedang mengalami transisi dan penganiayaan. Mereka bergumul
dengan pertanyaan: "Jika Yesus adalah Mesias, mengapa Ia mati dengan cara yang memalukan di salib?" Materi ini memberikan jawaban bahwa salib bukanlah kegagalan, melainkan kejahatan dan dosa manusia yang ditanggung Yesus.
2. Kajian Literaris Ayat - makna semantik, teologis – Beberapa kata Kunci
Untuk memahami kedalaman teks ini, kita perlu melihat beberapa
kata kunci dalam bahasa Yunani:
• Dei (δεῖ) - "Harus" (ay. 21): Yesus berkata Ia harus pergi ke Yerusalem. Kata dei menunjukkan keharusan Ilahi (divine necessity). Untuk mengalahkan kejahatan, Yesus tidak dapat mundur di hadapan kejahatan manusia. Ia harus menghadapinya. Apapun resikonya.
• Skandalon (σκάνδαλον) - "Batu Sandungan" (ay. 23): Yesus menyebut Petrus sebagai skandalon. Secara harfiah berarti jerat atau jebakan. Petrus, yang baru saja menjadi Petros, "batu karang", berubah menjadi "batu sandungan" karena berpikir menurut cara manusia dimana cenderung menghindari habatan. Lari dari masalah.
• Aparnesastho (ἀπαρνησάσθω) - "Menyangkal diri" (ay. 24): Berasal dari kata aparneomai, yang berarti melepaskan hak sepenuhnya atau berkata "tidak" pada diri sendiri demi kepentingan Tuhan.
• Psyche (ψυχή) - "Nyawa/Jiwa" (ay. 25-26): Kata ini merujuk pada totalitas hidup manusia. Menyelamatkan psyche demi dunia ini justru akan menghilangkannya dalam kekekalan.
3. Makna Teologis
a. Kristologi Salib: Mesias tidak bisa dipisahkan dari penderitaan.
Kemuliaan Kristus justru dicapai melalui ketaatan-Nya sampai mati di salib.
b. Paradoks Kerajaan Allah: Dalam kerajaan-Nya, untuk mendapatkan hidup, seseorang harus kehilangan hidupnya. Keuntungan duniawi tidak ada artinya jika dibandingkan dengan keselamatan jiwa.
c. Hakikat Pemuridan: Mengikut Yesus bukan sekadar pengakuan intelektual (seperti pengakuan Petrus), melainkan kesediaan praktis untuk memikul salib setiap hari.
4. Pertanyaan
a. Identifikasi Diri: Pernahkah kita menjadi "batu sandungan" bagi rencana Tuhan karena kita lebih mementingkan kenyamanan pribadi
daripada kehendak-Nya?
b. Makna Salib: Apa arti "memikul salib" dalam konteks hidup Anda saat ini? Apakah itu masalah hidup biasa ataukah pengorbanan karena kesetiaan pada iman?
c. Prioritas Hidup: Jika Anda memiliki seluruh dunia tetapi kehilangan damai sejahtera dan hubungan dengan Tuhan, apa gunanya? (Refleksi atas ayat 26).
5. Aplikasi Renungan
Mengikut Yesus seringkali berarti berjalan melawan arus dunia. Dunia menawarkan "kesuksesan tanpa penderitaan," tetapi Yesus
menawarkan "kemenangan melalui pengorbanan."
Langkah Praktis:
• Berhenti membuat penawaran: Jangan mencoba mengikuti Yesus dengan syarat-syarat kita sendiri.
• Penyangkalan Diri: Latihlah diri untuk mendahulukan kehendak Tuhan di atas ambisi pribadi dalam satu keputusan kecil minggu ini.
Renungan Penutup "Salib Sebelum Mahkota"
Seringkali kita ingin menjadi "Petros" (batu karang) yang kuat, tetapi enggan menghadapi jalan menuju Yerusalem. Kita mencintai berkat-Nya,
tapi takut akan penderitaan-Nya. Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa tidak ada kekristenan tanpa salib. Memikul salib bukan berarti kita mencari-cari penderitaan, melainkan kita tetap setia pada kebenaran meskipun itu merugikan kita secara duniawi. Ketika kita berani kehilangan "hidup" kita -ambisi kita, harga diri kita, kendali kita - di tangan Yesus, justru di situlah kita akan menemukan kehidupan yang sejati, yang tidak bisa dicuri oleh dunia ini.
Penelaahan Alkitab, Maret 2026
PETUNJUK PENELAAHAN ALKITAB
Dipersiapkan Oleh: Pdt. Dr. Welman Boba