A. Teknis
Di setiap pelaksanaan PA (Penelaahan Alkitab) didahului dengan doa. Jika peserta penelaahan Alkitab yang hadir kurang dari 5 orang, tidak perlu dibagi kelompok. Sebaliknya, jika peserta antara 5-10 orang, perlu pembagian kelompok. Jumlah anggota dalam kelompok berkisar antara 3-4 orang. Untuk kehadiran antara 10 sampai 30 orang dibagi antara 5 -7 orang per kelompok. Untuk kehadiran antara 31 sampai 50 orang, peserta PA untuk satu kelompok berkisar antara 7 sampai 10 orang. Untuk peserta lebih dari 50 orang, peserta diskusi dapat dibagi untuk 3-5 orang yang duduk berdekatan, atau dapat disesuaikan dengan fasilitas pendukung yang ada.
B. Tata Penelaahan:
Pembukaan (5–10 menit): Sapa peserta, doa pembukaan.
Pembacaan Teks (5 menit): Baca Mazmur 19:1-7 bersama-sama atau satu orang membacakan.
Pemahaman Teks (10–15 menit).
Diskusi Kelompok (20–30 menit): Fasilitator bisa mendorong diskusi lebih dalam dengan pertanyaan teks (a), refleksi pribadi (b), dan tindakan iman (c).
Aplikasi dan Doa (10 menit): Ajak peserta menuliskan satu komitmen praktis. Doakan komitmen itu secara pribadi atau bersama-sama.
C. Materi Penelaahan: Perikop : Mazmur 19:1-7
1. Latar Belakang
Mazmur 19 lahir dari masyarakat agraris Israel kuno yang hidup sangat dekat dengan alam. Langit, matahari, siang-malam, dan keteraturan kosmis adalah bagian dari pengalaman hidup sehari-hari. Langit dan cakrawala dipahami sebagai “ruang kesaksian” tentang kebesaran Allah. Peredaran matahari menjadi penentu waktu kerja, ibadah, dan kehidupan sosial. Masyarakat belum mengenal sains modern, sehingga alam dipahami secara religius sebagai “bahasa Allah.” Dalam konteks ini, pernyataan: “Langit menceritakan kemuliaan Allah” bukan sekadar puisi, melainkan pengakuan iman yang lahir dari pengalaman hidup konkret.
Mazmur ini secara tradisional dikaitkan dengan Daud dan konteks Kerajaan Israel yang sedang bertumbuh sebagai negara. Situasi politiknya ditandai oleh proses konsolidasi kerajaan dari konfederasi suku menjadi monarki. Kebutuhan akan legitimasi ilahi atas kekuasaan raja. Ancaman dari bangsa-bangsa besar di sekitarnya seperti Mesir dan Mesopotamia.
Dalam dunia kuno: Matahari sering dipuja sebagai dewa (Ra di Mesir, Shamash di Babel). Mazmur 19 melawan teologi politis kafir itu dengan menegaskan: Matahari bukanlah Allah, melainkan hanya ciptaan yang taat menyatakan kemuliaan Allah yang esa. Ini adalah sikap teologis sekaligus politis: Israel menolak ide bahwa kuasa kosmis adalah ilahi.
Mazmur 19 sangat penting karena mempertemukan dua sumber wahyu Allah, yaitu:
a. Ayat 1-6 Wahyu Umum: Allah dikenal melalui langit, siang, dan malam dan peredaran matahari. Ini mencerminkan teologi Ibrani bahwa seluruh ciptaan adalah “liturgi kosmik” yang memuliakan Allah.
b. Ayat 7 dan seterusnya adalah Wahyu Khusus. Mulai ayat 7, fokus bergeser kepada: Taurat Tuhan. Perintah-perintah-Nya, takut akan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa alam menyatakan kemuliaan Allah. Taurat menyatakan kehendak Allah. Konteks ini sangat penting dalam tradisi iman Israel pasca Sinai.
Hubungan dengan Dunia Timur Dekat Kuno. Dalam kebudayaan Timur Tengah Kuno: Bangsa-bangsa menyembah benda langit. Israel justru: mendesakralisasi matahari. Tetapi “mensakralkan” Allah yang menciptakannya. Mazmur 19 adalah bentuk teologi tandingan terhadap agama kosmik kafir.
2. Kajian Literaris Ayat - makna semantik, teologis – Beberapa kata Kunci
Ayat 1
הַשָּׁמַיִם (haššāmayim) = “langit” (jamak → totalitas kosmos)
מְסַפְּרִים (mesapperîm) = “menceritakan terus-menerus” (tindakan berkelanjutan).
Langit terus-menerus mewartakan kemuliaan Allah, tanpa henti, tanpa bahasa manusia.
Ayat 2
יַבִּיעַ (yabbîa‘) = “memancarkan / meluapkan”
דָּעַת (da‘at) = “pengetahuan”
Siang dan malam mewartakan pengetahuan ilahi secara berantai → konsep pewahyuan berkesinambungan.
Ayat 3
אֹמֶר וְאֵין דְּבָרִים
בְּלִי נִשְׁמָע קוֹלָם
“Tidak ada kata, tidak ada suara, namun suara mereka tetap terdengar.”
Di sini muncul paradoks teologis: Wahyu Allah tanpa bahasa, tapi universal.
Ayat 5–6 (Matahari sebagai Metafora)
שֶׁמֶשׁ (šemeš) = matahari
אֹהֶל (’ōhel) = kemah/tenda → tempat tinggal sementara
Matahari digambarkan: seperti mempelai laki-laki, seperti pahlawan (גִּבּוֹר gibbōr) yang berlari di lintasannya. Ini bahasa mitologis-puitis, tetapi anti-penyembahan matahari: Matahari bukan dewa, hanya hamba Allah.
Ayat 7
חַמָּה (ḥammāh) = panas matahari
נִסְתָּר (nistār) = tersembunyi
Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari dampak matahari → lambang universalitas kuasa Allah.
Ciri Gramatikal Penting
Unsur Fungsi:
Partisipel aktif - menunjukkan pewartaan terus-menerus.
Paralelisme - memperdalam makna, bukan mengulang.
Metafora antropomorfis - Alam dipersonifikasikan sebagai pemberita.
Kesimpulan teologis dari teks Ibrani: Dari bahasa aslinya tampak jelas bahwa ciptaan bukan sekadar objek, melainkan subjek pewartaan. Bahwa pewahyuan Allah berlangsung terus-menerus, tanpa suara, tanpa batas geografis. Bahwa matahari bukan ilah, melainkan hamba Allah yang taat pada lintasan-Nya
3. Makna Teologis
Allah berbicara tanpa suara, tetapi seluruh dunia mendengar. Dalam konteks di zamannya. Mazmur 19:1-7 menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta, bukan bagian dari ciptaan. Seluruh alam adalah saksi iman. Hukum Tuhan adalah pusat hidup berbangsa. Kuasa politik tunduk pada kehendak ilahi. Dengan demikian, Mazmur ini bukan hanya nyanyian pribadi, melainkan juga sebagai pengakuan iman nasional Israel, dasar etika sosial, koreksi terhadap penyembahan berhala kosmis. Penegasan ini dapat diurai dalam beberapa catatan di bawah ini:
1. Allah Menyatakan Diri Melalui Ciptaan (Teologi Wahyu Umum)
“Langit menceritakan kemuliaan Allah” (ay. 1) menegaskan bahwa Allah tidak tersembunyi sepenuhnya. Seluruh alam semesta adalah media pewahyuan Allah. Ciptaan bukan netral, melainkan sarana teologis. Oleh karena itu, manusia tidak bisa berdalih bahwa ia sama sekali tidak mengenal Allah, karena alam sendiri adalah kesaksian terbuka tentang Sang Pencipta.
2. Kemuliaan Allah Lebih Besar Dari Bahasa Manusia.
Ayat 2-3 menunjukkan paradoks bahwa alam “berbicara,” tetapi tanpa suara dan tanpa kata. Artinya, kemuliaan Allah melampaui bahasa, budaya, dan sistem simbol manusia. Allah tidak bergantung pada bahasa religius formal. Pewahyuan-Nya bersifat trans-verbal (melampaui kata-kata). Itu berarti, Allah tidak hanya dikenal lewat kitab dan khotbah, tetapi juga lewat keheningan kosmos.
3. Universalitas Wahyu Allah
Ayat 4 menegaskan bahwa “ke seluruh bumi keluarlah suara mereka.” Ini berarti bahwa Wahyu Allah bersifat universal. Ia tidak dapat dibatasi oleh batas ideologi bangsa, agama, budaya, dan wilayah/teritorial. Dengan demikian, Allah adalah Tuhan seluruh dunia, bukan hanya Tuhan Israel. Ini menjadi dasar teologis dialog iman, misi, dan tanggung jawab global.
4. Matahari Sebagai Hamba Allah, Bukan Ilah
Ayat 5-7 menampilkan matahari secara sangat agung. Ia seperti mempelai laki-laki, seperti pahlawan yang berlari. Namun makna teologisnya justru sangat tegas bahwa Matahari bukan objek penyembahan. Matahari taat pada lintasan yang ditetapkan Allah. Pemahaman ini mengandung teologi anti-berhala. Bahwa yang paling bercahaya dalam alam pun tetap hanya ciptaan, bukan Sang Pencipta.
5. Keteraturan Kosmos Sebagai Tanda Kesetiaan Allah
Peredaran matahari yang tetap, teratur, setia pada lintasannya hendak menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang setia. Dunia dan atau jagad raya ini, tidak kacau, tetapi berada dalam tatanan keteraturan ilahi. Dengan demikian, hukum alam adalah tanda bahwa Allah adalah Ia yang tetap setia memelihara ciptaan-Nya.
6. Tidak Ada Makhluk Yang Luput Dari Kehadiran Allah
Ayat 7 menyatakan bahwa “Tidak ada yang tersembunyi dari panasnya.” Pernyataan ini hendak memberitahukan bahwa tidak ada ruang hidup yang bebas dari jamahan Allah. Bahwa Allah hadir di pusat kota, di hutan, di laut, di ruang sunyi bahkan di ruang hampa sekalipun. Allah bukan hanya Allah yang hadir dalam ibadah, melainkan Allah dari seluruh realitas hidup.
Dengan demikian Mazmur 19:1-7 mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta yang menyatakan diri. Ciptaan adalah saksi iman. Kemuliaan Allah bersifat universal. Tidak ada kuasa kosmis yang layak menggantikan Allah. Seluruh hidup berada dalam terang dan naungan serta kendali kehadiran-Nya
4. Pertanyaan
Pertanyaan reflektif untuk setiap pribadi:
“Kapan terakhir kali anda benar-benar terpesona oleh alam (langit, laut, gunung, matahari terbit) dan apa yang anda rasakan saat itu?”
Pertanyaan untuk diskusi Kelompok
1. Mengapa menurut anda alam disebut “menceritakan kemuliaan Allah”, padahal ia tidak berbicara?
2.Apa bahaya teologis jika manusia lebih mengagungkan ciptaan daripada Sang Pencipta?
3.Bagaimana hubungan antara Mazmur 19 dengan masalah krisis lingkungan saat ini?
4.Dalam kehidupan sehari-hari, di mana anda melihat “jejak kemuliaan Allah”?
5.Apa tanggung jawab orang percaya terhadap alam menurut Mazmur ini?
5. Aplikasi Renungan
“Jika langit saja setia memberitakan kemuliaan Allah tanpa suara, apakah hidup kita sudah cukup lantang memuliakan Tuhan?”
Aplikasi Praktis
• Merusak alam = mengaburkan kesaksian tentang Allah
• Memelihara alam = tindakan iman
• Mengagumi alam = bagian dari ibadah
Aplikasi konkret:
• Tidak membuang sampah sembarangan
• Menghemat air dan energi
• Ikut kerja bakti lingkungan
• Mengajarkan anak-anak menghormati ciptaan
(dapat dilanjutkan …)
Penelaahan Alkitab, Januari 2026
PETUNJUK PENELAAHAN ALKITAB
Dipersiapkan Oleh: Pdt. Dr. Welman Boba