A. Teknis

Di setiap pelaksanaan PA (Penelaahan Alkitab) didahului dengan doa. Jika peserta penelaahan Alkitab yang hadir kurang dari 5 orang, tidak perlu dibagi kelompok. Sebaliknya, jika peserta antara 5-10 orang, perlu pembagian kelompok. Jumlah anggota dalam kelompok berkisar antara 3-4 orang. Untuk kehadiran antara 10 sampai 30 orang dibagi antara 5 -7 orang per kelompok. Untuk kehadiran antara 31 sampai 50 orang, peserta PA untuk satu kelompok berkisar antara 7 sampai 10 orang. Untuk peserta lebih dari 50 orang, peserta diskusi dapat dibagi untuk 3-5 orang yang duduk berdekatan, atau dapat disesuaikan dengan fasilitas pendukung yang ada.

B. Tata Penelaahan:

  • Pembukaan (5–10 menit): Sapa peserta, doa pembukaan.

  • Pembacaan Teks (5 menit): Baca Matius 10:34-42 bersama-sama atau satu orang membacakan.

  • Pemahaman Teks (10–15 menit).

  • Diskusi Kelompok (20–30 menit): Fasilitator bisa mendorong diskusi lebih dalam dengan pertanyaan teks (a), refleksi pribadi (b), dan tindakan iman (c).

  • Aplikasi dan Doa (10 menit): Ajak peserta menuliskan satu komitmen praktis. Doakan komitmen itu secara pribadi atau bersama-sama.

C. Materi Penelaahan: Perikop : Matius 10:34-42

1.⁠ ⁠ Latar Belakang

a. Konteks Pasal

Matius 10 adalah khotbah pengutusan (mission discourse) Yesus kepada kedua belas murid. Yesus berbicara tentang: Pengutusan, penolakan, penderitaan, dan kesetiaan dalam mengikut Dia. Ayat 34–42 merupakan penutup yang paling radikal, berisi tuntutan terdalam dari pemuridan.

b. Konteks Historis Jemaat Matius

Injil Matius ditulis untuk komunitas Kristen Yahudi abad pertama yang mengalami konflik dengan sinagoge, menghadapi penolakan keluarga, harus memilih antara iman kepada Kristus atau keamanan sosial. Teks ini lahir dari realitas penderitaan dan konflik iman, bukan teori teologis.

2.⁠ ⁠Kajian Literaris Ayat - makna semantik, teologis – Beberapa kata Kunci

a. Ayat 34: μάχαιρα (machaira) – “pedang” secara literal: Pedang pendek. Secara metaforis: Konflik, perpecahan, ketegangan. Yesus tidak mengajarkan kekerasan, tetapi menyingkapkan bahwa Injil menuntut keputusan yang dapat memecah relasi. Artinya: Damai sejati tidak selalu berarti tanpa konflik, tetapi walau di tengah konflikpun, ia tetap setia pada kebenaran Allah.

b.Ayat 37 φιλέω (phileō) – “mengasihi” tetapi dalam klasifikasi kasih persahabatan. Philos adalah kasih afektif, relasional, emosional baik dalam keluarga maupun persahabatan. Yesus tidak menolak kasih dalam keluarga atau dalam persahabatan. Tetapi Yesus menolak kasih yang mengalahkan kesetiaan kepada Allah.

c. Ayat 38 σταυρός (stauros) – “salib”. Ia adalah alat yang dipakai untuk eksekusi di kekaisaran Romawi. Karena itu salib menjadi simbol kehinaan, penderitaan, dan kematian. “Memikul salib” berarti: Menyangkal diri, siap menderita, siap kehilangan kehormatan dan kenyamanan.

d. Ayat 39 ψυχή (psychē) – “nyawa / hidup”. Tidak hanya hidup biologis, tetapi terutama hidup yang memiliki kesadaran adanya kuasa yang lebih dari dia. Psykhe meliputi: kepribadian, identitas, dan eksistensi. Dalam ayat ini kita melihat adanya paradoks Injil: bahwa mereka yang menyelamatkan nyawa/hidupnya akan kehilangan nyawa/hidup. Mereka yang menyerahkan diri kepada Kristus justru merekalah yang memperoleh hidup sejati.

e. ayat 40 δέχομαι (dechomai) – “menerima”. Dechomai berarti menerima dengan sikap terbuka dan hormat. Menerima lebih dari sekadar penerimaan material atau fisik. Karena menerima utusan Kristus berarti menerima Kristus sendiri.

3. Makna Teologis

Matius 10:32-42 mengandung makna teologis bahwa pemuridan bersifat khusus, eksklusif, dan total. Di sana tidak ada ruang netral dalam mengikut Kristus. Kristus menuntut loyalitas tertinggi. Dengan demikian keselamatan menuntut penataan ulang seluruh relasi dan eksistensi hidup. Sangat jelas bahwa jalan keselamatan adalah jalan salib. Keselamatan bukan jalan mudah, melainkan jalan ketaatan. Kerajaan Allah menghargai kesetiaan bahkan dalam perkara-perkara kecil sekalipun. Tindakan sederhana yang dilakukan dalam keyakinan.

4. Pertanyaan

1. Mengapa Yesus mengatakan bahwa Ia membawa “pedang”, bukan damai?
2. Dalam konteks kita, konflik apa yang dapat saja muncul karena keyakinan/iman?
3. Apa arti “memikul salib” dalam kehidupan saya saat ini?
4. Hal apa yang paling sulit saya lepaskan demi mengikut Kristus?
5. Tindakan sederhana apa yang dapat saya lakukan dalam jemaat?

5. Aplikasi Renungan

  • Mengikut Kristus berarti berani memilih, bukan sekadar ikut arus.

  • Iman diuji bukan hanya dalam penderitaan besar, melainkan juga dalam kesetiaan pada perkara-perkara kecil dan dalam keputusan sehari-hari. Ya, di dalam dan melalui tindakan mengasihi.

Renungan Penutup: Kristus telah memilih jalan salib demi keselamatan kita. Kini kita dipanggil untuk memilih: Jalan kenyamanan atau jalan keselamatan.

Penelaahan Alkitab, Februari 2026

PETUNJUK PENELAAHAN ALKITAB

Dipersiapkan Oleh: Pdt. Dr. Welman Boba

Tema:
MEMILIH JALAN KESELAMATAN