A. Teknis

Di setiap pelaksanaan PA (Penelaahan Alkitab) didahului dengan doa. Jika peserta penelaahan Alkitab yang hadir kurang dari 5 orang, tidak perlu dibagi kelompok. Sebaliknya, jika peserta antara 5-10 orang, perlu pembagian kelompok. Jumlah anggota dalam kelompok berkisar antara 3-4 orang. Untuk kehadiran antara 10 sampai 30 orang dibagi antara 5 -7 orang per kelompok. Untuk kehadiran antara 31 sampai 50 orang, peserta PA untuk satu kelompok berkisar antara 7 sampai 10 orang. Untuk peserta lebih dari 50 orang, peserta diskusi dapat dibagi untuk 3-5 orang yang duduk berdekatan, atau dapat disesuaikan dengan fasilitas pendukung yang ada.

B. Tata Penelaahan:

  • Pembukaan (5–10 menit): Sapa peserta, doa pembukaan.

  • Pembacaan Teks (5 menit): Baca Matius 1:21-23 bersama-sama atau satu orang membacakan (3x).

  • Pemahaman Teks (10–15 menit).

  • Diskusi Kelompok (20–30 menit): Fasilitator bisa mendorong diskusi lebih dalam dengan pertanyaan teks (a), refleksi pribadi (b), dan tindakan iman (c).

  • Aplikasi dan Doa (10 menit): Ajak peserta menuliskan satu komitmen praktis. Doakan komitmen itu secara pribadi atau bersama-sama.

C. Materi Penelaahan: Perikop : Matius 1:21-23

21 : Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.

22 : Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

23 : Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel - yang berarti: Allah menyertai kita.

21: τέξεται δὲ υἱόν, καλέσεις τὸ ὄνομα αὐτοῦ Ἰησοῦν· αὐτὸς γὰρ σώσει τὸν λαὸν αὐτοῦ ἀπὸ τῶν ἁμαρτιῶν αὐτῶν. (téxetai de huión, kaléseis tò ónoma autoû Iēsoûn; autós gar sósei tòn laón autoû apò tôn hamartiôn autôn)

22: Τοῦτο δὲ ὅλον γέγονεν, ἵνα πληρωθῇ τὸ ῥηθὲν ὑπὸ κυρίου διὰ τοῦ προφήτου λέγοντος· (Tûto de hólon gégonen, hína plērōthḕ tò rhēthèn hypò kyríou diá tou prophḗtou légontos;)

23: Ἰδοὺ ἡ παρθένος ἐν γαστρὶ ἕξει καὶ τέξεται υἱόν, καὶ καλέσουσιν τὸ ὄνομα αὐτοῦ Ἐμμανουήλ· ὅ ἐστιν μεθερμηνευόμενον· Μεθ’ ἡμῶν ὁ Θεός.(Idoù hē parthénos en gastrì héxei kai téxetai huión, kai kalésousin tò ónoma autoû Emmanouḗl; hó estin methermēneuómenon: Meth’ hēmôn ho Theós.)

1. Latar Belakang

Palestina pada abad ke-1 berada di bawah pendudukan Romawi. Orang Yahudi berharap datangnya Mesias yang membebaskan mereka dari penindasan politik dan sosial. Di tengah situasi itu, kelahiran Yesus diberitakan bukan sebagai pembebas politik, melainkan pembawa keselamatan dari dosa. Yusuf dan Maria adalah orang Yahudi Galilea dari lingkungan sederhana. Pertunangan (erusin) dalam tradisi Yahudi waktu itu setara dengan hubungan suami-istri secara hukum, meskipun belum hidup serumah. Kehamilan Maria sebelum tinggal bersama Yusuf menimbulkan skandal sosial besar. Dalam budaya Yahudi, nama mengandung identitas dan panggilan hidup. Perintah malaikat agar Yusuf menamai bayi itu menegaskan peran Yusuf sebagai ayah legal → memastikan Yesus masuk ke garis keturunan Daud (sangat penting mesianis).

Nama Yesus (Ibrani: Yeshua) berarti “YHWH menyelamatkan.” Orang Yahudi mengenal nama ini secara umum, tetapi dalam Matius nama ini diberi penjelasan teologis khusus: Ia menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Orang Yahudi memiliki kesadaran kuat bahwa Allah menyertai umat-Nya (misalnya: tiang awan & api dalam Eksodus). Pemberian nama Imanuel menegaskan bahwa penyertaan Allah kini nyata dalam pribadi.

Pada masa Yesus, banyak umat menantikan pembebasan politik (anti-Romawi). Matius menekankan: keselamatan yang dibawa Yesus adalah lebih mendasar: pembebasan dari dosa, akar segala penderitaan dan keterasingan dari Allah. Banyak orang Yahudi mengharapkan Mesias seperti Daud. Seorang Raja yang sanggup memulihkan Israel. Matius menegaskan Mesias itu datang melalui jalur rohani, bukan politik.

Ayat 22–23 mengutip Yesaya 7:14, sehingga perlu memahami konteks kelahiran Imanuel dalam Yesaya. Masa itu, Raja Ahas, Raja di Yehuda berada dalam ancaman koalisi Israel–Aram. Nabi Yesaya menjanjikan tanda dari Allah: seorang anak lahir sebagai jaminan penyertaan Allah, tanda bahwa Yehuda tidak akan binasa. Nama anak itu “Imanuel” yang berarti: Allah hadir dan aktif menyertai umat-Nya dalam sejarah.

Matius melihat pola PL yang digenapi secara penuh dalam kelahiran Yesus. Bila dalam Yesaya anak “Imanuel” menjadi tanda penyertaan Allah dalam krisis nasional, maka dalam Matius: Allah menyertai seluruh dunia melalui kelahiran Sang Mesias. Matius menargetkan pembaca Yahudi-Kristen, sehingga kutipan PL sangat dominan (lebih dari 60 kali). Yesus ditampilkan sebagai penggenapan seluruh rencana Allah. Matius memulai Injilnya dengan “Imanuel” (Allah beserta kita) dan menutupnya dengan “Aku menyertai kamu senantiasa” (Mat 28:20) → satu garis besar teologi penyertaan Allah melalui Kristus.

2. Kajian Literaris Ayat - Makna Semantik, Teologis - Beberapa Kata Kunci

Ayat 21

τέξεται (téxetai) “ia akan melahirkan.” Suatu medium yang menunjukkan partisipasi subjek dalam tindakan. Di sini ditekankan proses alami.

καλέσεις (kaléseis) dari καλέω futur imperatif, artinya “engkau harus/akan menamai.” Yang ditetapkan di sini adalah otoritas Yusuf secara hukum sebagai ayah (legal father).

Ἰησοῦν (Iēsoûn) Ini bentuk akusatif dari Ἰησοῦς. Dalam bahasa Ibrani: יֵשׁוּעַ / יְהוֹשֻׁעַ (Yeshua/Yehoshua). Artinya “YHWH menyelamatkan.”

αὐτὸς σώσει- dari σώζω (autos sósei). Dua kata ini diletakkan di posisi awal untuk memberi penekanan bahwa “Ia sendiri / hanya Dia/Dia-lah satu-satunya yang akan menyelamatkan/ menyelamatkan secara tuntas.” Status futurum menegaskan kepastian tindakan Allah.

Ayat 22

γέγονεν (gégonen) dari γίνομαι. Artinya: “semua ini telah (dan tetap) terjadi.” Struktur gramatika perfek ini hendak menyatakan suatu tindakan yang telah terjadi di masa lampau tetapi hasilnya masih berlangsung.

Ayat 23

ἐν γαστρὶ ἕξει (en gastri héxei) artinya “akan berada dalam rahim”/“akan mengandung.” Ini adalah ungkapan yang secara literal menegaskan kehamilan.

Ἐμμανουήλ (Emmanouḗl). Ditranskrip dari bahasa Ibrani עִמָּנוּאֵל yang berarti “Allah bersama kita.”

Μεθ’ ἡμῶν ὁ Θεός (Meth’ hēmōn ho Theós). Struktur bahasa Yunani yang menempatkan ὁ Θεός (Allah) di akhir ini untuk lebih menekankan bahwa “Allahlah yang bersama kita.”

Makna Teologis

Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dan dunia dari dosa (ay. 21). Misi inti Yesus adalah keselamatan secara spiritual. Pada masa itu orang Yahudi berharap pembebasan dari Romawi, tetapi malaikat menegaskan: akar masalah manusia bukan penjajahan, melainkan dosa. Nama “Yesus” memuat seluruh identitas dan panggilan-Nya: Ia menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Keselamatan di sini mencakup: pengampunan dosa, pembebasan dari kuasa dosa, pemulihan relasi dengan Allah dan hidup baru dalam ketaatan.

Kelahiran Yesus Menggenapi Rencana Allah (ay. 22). Formula Matius: “supaya digenapi…” Matius ingin menunjukkan bahwa Yesus bukan peristiwa kebetulan, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah yang telah ditetapkan. Bentuk perfek “gégonen” hendak menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Maria bukan sekadar peristiwa masa lampau; dampaknya berlangsung terus dalam sejarah gereja. Penggenapan PL ini menghubungkan sejarah Israel dengan kedatangan Mesias secara langsung.

Yesus adalah Imanuel – Allah Beserta Kita (ay. 23). Nama “Imanuel” menunjukkan identitas Yesus, bukan sekadar gelar sastra. Yesus adalah kehadiran Allah sendiri di tengah manusia. Dalam PL, penyertaan Allah sering ditandai melalui: tabut perjanjian, tiang awan dan api, kehadiran di Bait Suci. Kini penyertaan itu berinkarnasi dalam pribadi Yesus. “Allah beserta kita” berarti: Allah tidak jauh atau asing; Ia dekat dan terlibat. Kehadiran Allah menghapus ketakutan dan kepanikan. Dalam penderitaan, kesepian, atau krisis, Allah hadir, bukan hanya “memerhatikan dari jauh.” Matius membuka Injil dengan Imanuel (1:23) dan menutupnya dengan janji: “Aku menyertai kamu senantiasa.” (Mat 28:20). Ini berarti bahwa seluruh Injil adalah kisah penyertaan Allah dalam Yesus.

Dua Nama masing-masing menekankan makna teologis yang sangat kuat. Pertama, Yesus artinya seorang yang menyandang misi penyelamatan. Sedangkan Imanuel hendak menyatakan tentang identitas ilahi yang selalu ada atau Allah hadir. Dua nama ini tidak bisa dipisahkan sebab ia menyatakan bahwa Allah menyelamatkan dengan cara hadir di dalam dunia manusia.

3. Pertanyaan

a. Tentang Yesus sebagai Juruselamat

1.Mengapa keselamatan yang dibawa Yesus bukan terutama pembebasan politik, melainkan pembebasan dari dosa?

2. Menurut anda, mengapa dosa menjadi akar dari segala masalah manusia?

b. Tentang Imanuel – Allah Beserta Kita

3. Apa bedanya “Allah beserta kita” sebagai teori agama dengan “Allah beserta kita” sebagai pengalaman hidup?

4. Dalam Perjanjian Lama, penyertaan Allah sering dinyatakan melalui tanda (tiang awan & api, tabut perjanjian). Apa makna penyertaan Allah kini dinyatakan melalui seorang Pribadi?

c. Tentang Penggenapan Nubuat

5. Mengapa Matius mengutip Yesaya 7:14?

6. Bagaimana penggenapan PL dalam Yesus menunjukkan bahwa Allah memegang kendali atas sejarah?

4. Aplikasi Renungan

Arahkan peserta untuk menerapkan firman ini dalam kehidupan sehari-hari:

a. Yesus menyelamatkan dari dosa

1. Dosa apakah yang paling sering menjauhkan saya dari Tuhan?

2. Langkah nyata apa yang bisa saya ambil minggu ini untuk meninggalkan dosa tersebut?

b. Yesus adalah Imanuel

3. Di bagian hidup mana saya paling membutuhkan kesadaran bahwa Tuhan menyertai saya? Keluarga, pekerjaan, pelayanan dan pergumulan pribadi.

c. Menghidupi penggenapan itu

4. Bagaimana saya bisa menghadirkan “Imanuel” bagi orang lain? Menjadi pembawa sukacita? Menjadi pembawa damai? Dan menjadi terang bagi yang gelap?

d. Taat seperti Yusuf

5. Sikap Yusuf menunjukkan ketaatan yang langsung dilakukan. Apa bentuk ketaatan yang Tuhan inginkan dari saya saat ini?

Penelaahan Alkitab, Desember 2025

PETUNJUK PENELAAHAN ALKITAB

Dipersiapkan Oleh: Pdt. Dr. Welman Boba

Tema: ALLAH MENYERTAI KITA