A. Teknis
Di setiap pelaksanaan PA (Penelaahan Alkitab) didahului dengan doa. Jika peserta penelaahan Alkitab yang hadir kurang dari 5 orang, tidak perlu dibagi kelompok. Sebaliknya, jika peserta antara 5-10 orang, perlu pembagian kelompok. Jumlah anggota dalam kelompok berkisar antara 3-4 orang. Untuk kehadiran antara 10 sampai 30 orang dibagi antara 5 -7 orang per kelompok. Untuk kehadiran antara 31 sampai 50 orang, peserta PA untuk satu kelompok berkisar antara 7 sampai 10 orang. Untuk peserta lebih dari 50 orang, peserta diskusi dapat dibagi untuk 3-5 orang yang duduk berdekatan, atau dapat disesuaikan dengan fasilitas pendukung yang ada.
B. Tata Penelaahan:
Pembukaan (5–10 menit): Sapa peserta, doa pembukaan.
Pembacaan Teks (5 menit): Baca 1 Korintus 15:14 bersama-sama atau satu orang membacakan.
Pemahaman Teks (10–15 menit).
Diskusi Kelompok (20–30 menit): Fasilitator bisa mendorong diskusi lebih dalam dengan pertanyaan teks (a), refleksi pribadi (b), dan tindakan iman (c).
Aplikasi dan Doa (10 menit): Ajak peserta menuliskan satu komitmen praktis. Doakan komitmen itu secara pribadi atau bersama-sama.
C. Materi Penelaahan: Perikop : 1 Korintus 15:14
1. Latar Belakang
a. Konteks Pasal
Pasal 15 merupakan bagian yang sangat penting dalam surat ini, karena secara khusus membahas tentang kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang percaya.
Ay. 1–11: Injil yang diberitakan Paulus (kematian dan kebangkitan Kristus)
Ay. 12–19: Konsekuensi jika tidak ada kebangkitan
Ay. 20–28: Kristus sebagai yang sulung dari kebangkitan
Ay. 29–58: Implikasi praktis kebangkitan
Ayat 14 berada dalam argumen Paulus yang bersifat logis (argumentum ad absurdum): Jika kebangkitan tidak ada → iman Kristen runtuh total.
b. Konteks Historis 1 Korintus
Surat ini ditulis oleh rasul Paulus sekitar tahun 55 M dari Efesus. Jemaat di Korintus berada di Kota Korintus yang adalah pusat perdagangan dan budaya. Kehidupan kota ini dipengaruhi filsafat Yunani yang cenderung menolak kebangkitan tubuh, juga menganggap bahwa tubuh itu nilainya rendah. Masalah utama: sebagian jemaat mulai meragukan kebangkitan orang mati (ay. 12). Ini mendorong Paulus untuk menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah fondasi iman Kristen.
2. Kajian Literaris Ayat - makna semantik, teologis – Beberapa kata Kunci
Teks Yunani 1Korintus 15:14
εἰ δὲ Χριστὸς οὐκ ἐγήγερται, κενὸν ἄρα τὸ κήρυγμα ἡμῶν, κενὴ καὶ ἡ πίστις ὑμῶν.
(ei de kristos ouk egēgertai kenon ara to kērygma hermoun, kenē kai hē pistis humoun)
Analisis Kata Kunci:
a. ἐγήγερται (egēgertai) – “telah dibangkitkan.” Kata ini berada dalam bentuk gramatika Perfect Passive Indicative. Artinya, untuk Perfect: peristiwa lampau dengan dampak yang terus berlangsung. Artinya untuk Passive: Allah sebagai pelaku (Kristus dibangkitkan oleh Allah).
►Jadi kebangkitan bukan hanya peristiwa masa lalu, melainkan realitas yang masih berlaku.
b. κενός (kenos) – “sia-sia / kosong”
Dipakai dua kali: κενὸν τὸ κήρυγμα (pemberitaan kosong) dan κενὴ ἡ πίστις (iman kosong)
Maknanya: Kosong dari isi, juga berarti tidak memiliki realitas. Arti berikut adalah tidak berguna.
►Paulus menekankan adanya kehampaan total tanpa kebangkitan.
c. κήρυγμα (kērygma) – “pemberitaan.” Ia juga adalah Proklamasi Injil. Inti berita gereja mula-mula adalah Kristus mati dan Kristus bangkit.
► Tanpa kebangkitan Injil kehilangan intinya.
d. πίστις (pistis) – “iman.” Pistis tidak sekadar percaya intelektual. Pistis melibatkan: cara hidup memercayakan diri kepada seseorang, penyerahan diri, dan kesetiaan.
► Jika objek iman (Kristus yang bangkit) tidak ada, maka iman menjadi ilusi.
3. Makna Teologis
a. Kebangkitan sebagai pondasi iman. Tanpa kebangkitan: Injil tidak sah. Gereja kehilangan dasar. Keselamatan dipertanyakan.
b. Hubungan erat antara fakta dan iman: Paulus tidak memisahkan fakta historis (kebangkitan) dengan fakta iman teologis.
Iman Kristen bukan mitos, melainkan berakar pada peristiwa nyata.
c. Kristologi: Kristus yang hidup. Ia bukan hanya guru moral, melainkan Tuhan yang hidup dan berkuasa.d. Soteriologi (keselamatan). Tanpa kebangkitan: dosa tidak dikalahkan. Kematian tidak ditaklukkan.
e. Eksistensi gereja. Bahwa gereja berdiri karena: Kristus hidup, karena itu juga maka Injil diberitakan.
► Tanpa kebangkitan, maka gereja akan kehilangan makna eksistensialnya atau keberadaannya.
4. Pertanyaan
1. Apakah iman saya didasarkan pada Kristus yang hidup atau hanya tradisi?
2. Apa arti kebangkitan Kristus dalam kehidupan saya sehari-hari?
3. Apakah saya masih hidup seolah-olah Kristus tidak bangkit?
4. Bagaimana saya memaknai penderitaan dalam terang kebangkitan?
5. Apakah pemberitaan Injil saya berpusat pada Kristus yang bangkit?
5. Aplikasi Renungan
Langkah Praktis:
1.Memperdalam iman pada Kristus yang hidup
• Membaca Injil secara rutin
• Merenungkan karya kebangkitan
2.Menghidupi iman yang tidak sia-sia
• Hidup dalam pengharapan
• Tidak putus asa dalam penderitaan
3.Memberitakan Injil dengan keyakinan
• Injil bukan teori, melainkan kabar hidup
• Bersaksi dengan keberanian
4.Mengalahkan dosa dengan kuasa kebangkitan
• Hidup baru (Rm. 6)
• Meninggalkan manusia lama.
Renungan Penutup:
1 Korintus 15:14 menempatkan kita pada sebuah pilihan yang radikal: Jika Kristus tidak bangkit, maka semuanya sia-sia. Dan iman Kristen justru bersaksi sebaliknya: Kristus telah bangkit! Karena itu: Pemberitaan kita tidak sia-sia. Iman kita tidak sia-sia dan tentu hidup kita tidak sia-sia. Kebangkitan Kristus bukan hanya doktrin, melainkan sumber pengharapan yang mengubah hidup.
► Kita tidak percaya pada masa lalu yang mati, tetapi pada Tuhan yang hidup.
Penelaahan Alkitab, April 2026
PETUNJUK PENELAAHAN ALKITAB
Dipersiapkan Oleh: Pdt. Dr. Welman Boba
Tema: Kristus Bangkit!